Selasa, 02 Agustus 2011

Today Was a Fairytale (bagian 3)

"Lho? De..Deva!?" tanya Chacha sambil meraih tangan cowo manis yang ternyata bernama Deva.

cowo itu tersenyum sambil menarik Chacha berdiri, "Emang knapa kalo gue?"

Chacha berdiri dengan cepat dan membersihkan kotoran-kotoran yang ada dibajunya, "ng, gapapa sih kaget aja.."

Deva melipat tangannya di depan dada kemudian bertanya, "itu tadi siapa Cha? yang sama elo?" tanyanya sedikit waspada

"gapenting!" ujar Chacha mendadak ketus

"kok ketus sih? rasanya mukanya familiar gitu di mata gue,"

Chacha mendengus pelan sambil berjalan pelan, diikuti Deva.
"emang si jelek, bego, aneh itu seterkenal itu ya? aneh deh cewe histeris banget gitu liat dia, jelek juga," kata Chacha acuh tak acuh.

Deva perlahan menarik nafas lega,

Chacha mlirik arlojinya dan memekik pelan, Deva terlonjak.

"kenapa Cha?"

Chacha dengan panik menjawab, "gue ninggalin pebi di gedung! mampus, mampus, mampus, gara-gara cowo gila itu nih, aaaah" katanya panik sambil berlari tiba-tiba

Deva cengo sesaat kemudian terbahak dan ikut berlari, mengejar Chacha .

tanpa disadari dua orang itu, seseorang sedang memperhatikan mereka dari jarak yang cukup dekat.


***

"Eh mas bro, kemana aja sih!? ini konsernya 5 menit lagi, bego! ke toilet aja sejam!" seseorang menepuk pundak Morgan yang sedang asik memperhatikan Chacha dan Deva yang sedang berlari ke pintu masuk.

Morgan kaget kemudian menoleh ke sumber suara,



"apansih lo," keluh Morgan sambil menepis tangan Dicky dari pundaknya.

Dicky langsung kesakitan karena tepisan tangan Morgan, kemudian berkata, "eh udah lah liatin apaan sih lo? gue disuruh anak-anak manggil lo, atau lo mau gua tinggal?" ancam Dicky

Morgan menghela nafas, "iyadeh, yaudah yuk," katanya sambil berjalan ke arah pintu masuk, tempat Chacha dan Deva berlarian tadi.

Dicky berlari kecil mengikuti langkahnya, "eh liatin siapa sih tadi? cewe yang lari-lari itu ya? kenapa? jangan-jangan...."

Morgan tetap bergeming dan berjalan terus

mata Dicky berkilat jahil, "lo suka yaaa!? siapa sih dia!?"

Morgan langsung berhenti dan melotot maksimal pada Dicky, "AMIT-AMIT, KAGAK!" kilahnya setengah berteriak.

Dicky tertawa terbahak-bahak, "be careful bro, hate to be in love," godanya sambil terus tertawa

Morgan yang kesal hanya dapat mendengus, menahan diri untuk tidak menonjok Dicky yang hampir terguling-guling di belakangnya.

***

di  sudut, di ruang penukaran tiket, dua orang masih asik bercengkrama.
ya, itu Febi dan Bisma,

Febi dan Bisma sudah membeli makanan kecil untuk menunggu Chacha dan Morgan.
"kak,masuk aja gih, tadi kan kakak udah nyuruh kak Dicky nyari kak Morgan," kata Febi sambil memakan makanannya yang sudah nyaris habis.

"gausa lah Feb, kakak nungguin kamu aja, sampai temenmu datang," kata Bisma santai, diam-diam Febi bersorak dalam hati, dan tersenyum-senyum sendiri.

Bisma melihat Febi tersenyum dan menoleh sepenuhnya ke Febi, "kok senyum? ada yang lucu, Feb?" tanya Bisma polos

Febi mendadak gugup, "Eh engga kak, cuma senyum liat papan itu tuh, aa JB-nya, ganteng kan?" kata Febi pura-pura terpesona.

Bisma mengangkat alis, kemudian tersenyum sambil berkata, "gantengan kakak kali," katanya santai

Febi mengangkat sebelah alisnya, "idiiih narsis," katanya, padahal dalam hati setuju tuh xD

Bisma tertawa renyah yang membuat Febi terkesima sesaat, 'GILA MANIS BANGEEEET,' katanya dalam hati, tanpa sadar dia terus menatap Bisma.

Bisma tiba-tiba mendekat ke Febi, Febi mendadak kaget, dalam hati kebat-kebit sendiri, 'muka gue udah merah banget dah ini,' katanya dalam hati.

Bisma terus mendekat ke muka Febi.... mendekat.... mendekat... dan.....
membersihkan makanan yang ternyata menempel di pipi Febi #toeng -_-.

Febi yang  udah hampir mati lemas hanya bisa menunduk malu, menutupi muka merahnya, 'kirain mau apain gue gitu..~' katanya dalam  hati.

Bisma tesenyum penuh arti disebelahnya.

***

"Eh itu Bisma sama siapa?" tanya Morgan mendadak berhenti melihat Bisma dan Febi yang duduk berdua

Dicky menoleh dan cekikikan, "temennya, calon pacar kali, playboy gitu,"

Morgan geleng-geleng kepala, "itu anak gampang amat ya cari pacar..."

Dicky mencibir, "sama kayak lo, tadi kan lo juga udah suka sama ce.... ADAW!"

Dicky mendadak kesakitan karena kaki Morgan menginjak kakinya, "jangan asal ngomong makanya," sembur Morgan

"yeee, emosional banget sih,"

"Dep, dep, dep, mana ya si pebi gue cari ditoilet gaada, mungkin udah masuk kali ya?" tanya Chacha keras diikuti anggukan Deva.

Morgan mendadak melotot mendengar suara Chacha dan menoleh ke belakang, jeng-jeng ~

Dicky menatap mereka berdua ( chacha dan morgan ) sambil tersenyum, "cie, cieee~"

"apaa cie ciee!?" bentak Morgan dan Chacha bersamaan sambil menatap Dicky galak, melihat hal itu Dicky makin bersemangat.

"ngomongnya aja udah kompak, jodoh ini mah namanya," godanya sambil tertawa cekikikan, Deva menatap Chacha dan menangkap reaski kemarahan di mata Chacha.

"AMIT-AMIT TAU GAK!!" teriak Chacha dan Morgan (lagi-lagi) bersamaan, Dicky tertawa terbahak-bahak, semakin membuat Morgan ingin menonjoknya dan Chacha ingin menjambaknya.

"Lo apaan sih ngikutin gue?" tanya Chacha sambil berkacak pinggang dan menatap galak ke Morgan, berusaha membuat Dicky invisible.

Morgan melipat tangannya . "bego! gausa geer deh, gue kan mau nonton juga, bilang aja lo nge-fans sama gue," kata Morgan mendadak narsis.

"HUAPA? nge-fans? geer banget bangetan lo! muka pas-pasan kayak lo aja belagu!"

Morgan cengo, "eh lo itu gabisa liat ya!? gue jelek? hello, cewek ngantri 200 meter buat gue, antrian tiket Harry Potter aja kalah (?)" ejek Morgan sambil menatap Chacha seolah-olah Chacha adalah tanaman yang bisa berbicara.

Chacha menggeram dan perlahan bergerak maju, Deva dengan cepat menangkap lengannya, "udah lah Cha, yuk masuk, nanti kita telat," kata Deva menarik lengan Chacha untuk maju.

"bentar Dev, biar gue hajar tuh cowo jelek,"  Chacha meronta-ronta, tapi kekuatan Deva masih lebih kuat, dia terus menarik Chacha.

Morgan tersenyum mengejek, "hajar? coba aja kalau bisa!"

Chacha menggeram, kemudian membuang muka, saat melewati Morgan, Deva meliriknya tajam, menandakan bendera permusuhan.

Morgan agak kaget melihat tatapannya, "siapa sih tuh cowo?" desisnya pelan.
Dicky yang mendengar ucapan Morgan berkata santai, "pacarnya kalee~ ciee yang cemburu,"

tanpa pikir panjang Morgan menginjak kakinya kuat-kuat.


***


"eeeeeit tunggu Dev, berhenti! itu Febi kan!?" tanya Chacha berbisik, karna kalo kuat-kuat, mbak-mbak yang jaga tiket (?) bakal melotot lebih parah.

Deva menoleh ke arah yang ditunjuk Chacha, "eh iya, sama siapa tuh?"

Chacha mengangkat bahu, "ejigila tuh anak, cakep juga tuh cowonya," kata Chacha sambil memandangi Bisma

Deva mendengus, Chacha menoleh, "kenapa lo, dep?"

Deva mendadak gugup, "ng....... Cha sebenernya ada sesuatu yang pengen gue bilang sama lo...." kata Deva sambil tersipu-sipu, Chacha yang masih sibuk memandangi Bisma dan Febi menjawab, "yauda bilang aja,"

"Cha liat gue coba,"

"bentar dep, bentaaar,"

"Cha, please," kata Deva sambil meraih tangan Chacha, Chacha kaget dan langsung menoleh sepenuhnya.

Deva menatap manik mata Chacha serius, Chacha sampai kaget sekaligus gugup, "kenapa sih Dev?" katanya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Deva, tapi Deva tetap bergeming.

Deva menghela nafas, dan kembali menatap Chacha yang terheran-heran di depannya
"sebenernya gue............................................................."

Morgan dan Dicky sedari tadi memperhatikan mereka, Morgan sudah menduga akan terjadi aksi 'penembakan' mendadak panik, tidak tau kenapa.

tanpa pikir panjang dia mendekati mereka berdua, berusaha menggagalkan aksi Deva.
Dicky setengah cengo (yang langsung tersenyum) mengikuti Morgan.

^^^