Selasa, 02 Agustus 2011

Today Was a Fairytale (bagian 3)

"Lho? De..Deva!?" tanya Chacha sambil meraih tangan cowo manis yang ternyata bernama Deva.

cowo itu tersenyum sambil menarik Chacha berdiri, "Emang knapa kalo gue?"

Chacha berdiri dengan cepat dan membersihkan kotoran-kotoran yang ada dibajunya, "ng, gapapa sih kaget aja.."

Deva melipat tangannya di depan dada kemudian bertanya, "itu tadi siapa Cha? yang sama elo?" tanyanya sedikit waspada

"gapenting!" ujar Chacha mendadak ketus

"kok ketus sih? rasanya mukanya familiar gitu di mata gue,"

Chacha mendengus pelan sambil berjalan pelan, diikuti Deva.
"emang si jelek, bego, aneh itu seterkenal itu ya? aneh deh cewe histeris banget gitu liat dia, jelek juga," kata Chacha acuh tak acuh.

Deva perlahan menarik nafas lega,

Chacha mlirik arlojinya dan memekik pelan, Deva terlonjak.

"kenapa Cha?"

Chacha dengan panik menjawab, "gue ninggalin pebi di gedung! mampus, mampus, mampus, gara-gara cowo gila itu nih, aaaah" katanya panik sambil berlari tiba-tiba

Deva cengo sesaat kemudian terbahak dan ikut berlari, mengejar Chacha .

tanpa disadari dua orang itu, seseorang sedang memperhatikan mereka dari jarak yang cukup dekat.


***

"Eh mas bro, kemana aja sih!? ini konsernya 5 menit lagi, bego! ke toilet aja sejam!" seseorang menepuk pundak Morgan yang sedang asik memperhatikan Chacha dan Deva yang sedang berlari ke pintu masuk.

Morgan kaget kemudian menoleh ke sumber suara,



"apansih lo," keluh Morgan sambil menepis tangan Dicky dari pundaknya.

Dicky langsung kesakitan karena tepisan tangan Morgan, kemudian berkata, "eh udah lah liatin apaan sih lo? gue disuruh anak-anak manggil lo, atau lo mau gua tinggal?" ancam Dicky

Morgan menghela nafas, "iyadeh, yaudah yuk," katanya sambil berjalan ke arah pintu masuk, tempat Chacha dan Deva berlarian tadi.

Dicky berlari kecil mengikuti langkahnya, "eh liatin siapa sih tadi? cewe yang lari-lari itu ya? kenapa? jangan-jangan...."

Morgan tetap bergeming dan berjalan terus

mata Dicky berkilat jahil, "lo suka yaaa!? siapa sih dia!?"

Morgan langsung berhenti dan melotot maksimal pada Dicky, "AMIT-AMIT, KAGAK!" kilahnya setengah berteriak.

Dicky tertawa terbahak-bahak, "be careful bro, hate to be in love," godanya sambil terus tertawa

Morgan yang kesal hanya dapat mendengus, menahan diri untuk tidak menonjok Dicky yang hampir terguling-guling di belakangnya.

***

di  sudut, di ruang penukaran tiket, dua orang masih asik bercengkrama.
ya, itu Febi dan Bisma,

Febi dan Bisma sudah membeli makanan kecil untuk menunggu Chacha dan Morgan.
"kak,masuk aja gih, tadi kan kakak udah nyuruh kak Dicky nyari kak Morgan," kata Febi sambil memakan makanannya yang sudah nyaris habis.

"gausa lah Feb, kakak nungguin kamu aja, sampai temenmu datang," kata Bisma santai, diam-diam Febi bersorak dalam hati, dan tersenyum-senyum sendiri.

Bisma melihat Febi tersenyum dan menoleh sepenuhnya ke Febi, "kok senyum? ada yang lucu, Feb?" tanya Bisma polos

Febi mendadak gugup, "Eh engga kak, cuma senyum liat papan itu tuh, aa JB-nya, ganteng kan?" kata Febi pura-pura terpesona.

Bisma mengangkat alis, kemudian tersenyum sambil berkata, "gantengan kakak kali," katanya santai

Febi mengangkat sebelah alisnya, "idiiih narsis," katanya, padahal dalam hati setuju tuh xD

Bisma tertawa renyah yang membuat Febi terkesima sesaat, 'GILA MANIS BANGEEEET,' katanya dalam hati, tanpa sadar dia terus menatap Bisma.

Bisma tiba-tiba mendekat ke Febi, Febi mendadak kaget, dalam hati kebat-kebit sendiri, 'muka gue udah merah banget dah ini,' katanya dalam hati.

Bisma terus mendekat ke muka Febi.... mendekat.... mendekat... dan.....
membersihkan makanan yang ternyata menempel di pipi Febi #toeng -_-.

Febi yang  udah hampir mati lemas hanya bisa menunduk malu, menutupi muka merahnya, 'kirain mau apain gue gitu..~' katanya dalam  hati.

Bisma tesenyum penuh arti disebelahnya.

***

"Eh itu Bisma sama siapa?" tanya Morgan mendadak berhenti melihat Bisma dan Febi yang duduk berdua

Dicky menoleh dan cekikikan, "temennya, calon pacar kali, playboy gitu,"

Morgan geleng-geleng kepala, "itu anak gampang amat ya cari pacar..."

Dicky mencibir, "sama kayak lo, tadi kan lo juga udah suka sama ce.... ADAW!"

Dicky mendadak kesakitan karena kaki Morgan menginjak kakinya, "jangan asal ngomong makanya," sembur Morgan

"yeee, emosional banget sih,"

"Dep, dep, dep, mana ya si pebi gue cari ditoilet gaada, mungkin udah masuk kali ya?" tanya Chacha keras diikuti anggukan Deva.

Morgan mendadak melotot mendengar suara Chacha dan menoleh ke belakang, jeng-jeng ~

Dicky menatap mereka berdua ( chacha dan morgan ) sambil tersenyum, "cie, cieee~"

"apaa cie ciee!?" bentak Morgan dan Chacha bersamaan sambil menatap Dicky galak, melihat hal itu Dicky makin bersemangat.

"ngomongnya aja udah kompak, jodoh ini mah namanya," godanya sambil tertawa cekikikan, Deva menatap Chacha dan menangkap reaski kemarahan di mata Chacha.

"AMIT-AMIT TAU GAK!!" teriak Chacha dan Morgan (lagi-lagi) bersamaan, Dicky tertawa terbahak-bahak, semakin membuat Morgan ingin menonjoknya dan Chacha ingin menjambaknya.

"Lo apaan sih ngikutin gue?" tanya Chacha sambil berkacak pinggang dan menatap galak ke Morgan, berusaha membuat Dicky invisible.

Morgan melipat tangannya . "bego! gausa geer deh, gue kan mau nonton juga, bilang aja lo nge-fans sama gue," kata Morgan mendadak narsis.

"HUAPA? nge-fans? geer banget bangetan lo! muka pas-pasan kayak lo aja belagu!"

Morgan cengo, "eh lo itu gabisa liat ya!? gue jelek? hello, cewek ngantri 200 meter buat gue, antrian tiket Harry Potter aja kalah (?)" ejek Morgan sambil menatap Chacha seolah-olah Chacha adalah tanaman yang bisa berbicara.

Chacha menggeram dan perlahan bergerak maju, Deva dengan cepat menangkap lengannya, "udah lah Cha, yuk masuk, nanti kita telat," kata Deva menarik lengan Chacha untuk maju.

"bentar Dev, biar gue hajar tuh cowo jelek,"  Chacha meronta-ronta, tapi kekuatan Deva masih lebih kuat, dia terus menarik Chacha.

Morgan tersenyum mengejek, "hajar? coba aja kalau bisa!"

Chacha menggeram, kemudian membuang muka, saat melewati Morgan, Deva meliriknya tajam, menandakan bendera permusuhan.

Morgan agak kaget melihat tatapannya, "siapa sih tuh cowo?" desisnya pelan.
Dicky yang mendengar ucapan Morgan berkata santai, "pacarnya kalee~ ciee yang cemburu,"

tanpa pikir panjang Morgan menginjak kakinya kuat-kuat.


***


"eeeeeit tunggu Dev, berhenti! itu Febi kan!?" tanya Chacha berbisik, karna kalo kuat-kuat, mbak-mbak yang jaga tiket (?) bakal melotot lebih parah.

Deva menoleh ke arah yang ditunjuk Chacha, "eh iya, sama siapa tuh?"

Chacha mengangkat bahu, "ejigila tuh anak, cakep juga tuh cowonya," kata Chacha sambil memandangi Bisma

Deva mendengus, Chacha menoleh, "kenapa lo, dep?"

Deva mendadak gugup, "ng....... Cha sebenernya ada sesuatu yang pengen gue bilang sama lo...." kata Deva sambil tersipu-sipu, Chacha yang masih sibuk memandangi Bisma dan Febi menjawab, "yauda bilang aja,"

"Cha liat gue coba,"

"bentar dep, bentaaar,"

"Cha, please," kata Deva sambil meraih tangan Chacha, Chacha kaget dan langsung menoleh sepenuhnya.

Deva menatap manik mata Chacha serius, Chacha sampai kaget sekaligus gugup, "kenapa sih Dev?" katanya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Deva, tapi Deva tetap bergeming.

Deva menghela nafas, dan kembali menatap Chacha yang terheran-heran di depannya
"sebenernya gue............................................................."

Morgan dan Dicky sedari tadi memperhatikan mereka, Morgan sudah menduga akan terjadi aksi 'penembakan' mendadak panik, tidak tau kenapa.

tanpa pikir panjang dia mendekati mereka berdua, berusaha menggagalkan aksi Deva.
Dicky setengah cengo (yang langsung tersenyum) mengikuti Morgan.

^^^

Senin, 11 April 2011

Today Was a Fairytale (bagian 2)

"aduh gue sakit perut nih nungguin Chacha, lama amat," Febi ngedumel sambil memegang perutnya, biasalah namanya rada sarap (?) jadi gampang sakit perut.

dia terus memandangi pintu masuk, menunggu Chacha masuk. dia sengaja ga masuk duluan, kasian ntar Chacha nyasar, pikirnya.

'kepada semua penonton, harap segera memasuki gedung utama, acara segera dimulai...' sebuah pengumuman menggema, membuat Febi cengo.

'aduh mampus gue, mampus gue, Chacha kemana sih ah...' batinnya panik sambil loncatloncat ga jelas di depan pintu masuk.

"hey, kok ga masuk?" kata seseorang tiba-tiba dari samping Febi

dengan cueknya si Febi ngomong tanpa liat wajah yang menyapanya, "nunggu temen."

"oh, sama dong,"

"oh,"

"jutek amat?"

"hmm, biasa aja kali,"

"haha, muka gue segitu jeleknya ya sampe-sampe lo ogah ngeliat gue?" candanya sambil tertawa pelan

Febi sebel, 'berani juga nih orang nyindir gue,' pikirnya jengkel, dengan cepat dia memutar kepalanya ke samping dan abrakadabra! langsung cengo dah tuh muka.


"ah.. eh... oh.." Febi menutup mulutnya sambil geleng-geleng kepala, gak percaya.

"haha, kenapa mbak?" tanya cowo super manis itu ramah

"ka...ka...kamu kan?????" pekik Febi histeris sambil menunjuk-nunjuk muka cowo itu.

cowo itu cuma tersenyum manis yang suer buat semua cewe di jagat raya meleleh saking manisnya.

"KAK BISMA SM*SH YAA? YA ALLAH DEMI APA? INI KAKAK YANG ASLI KAN? BUKAN HOAX KAN YAAAA?" tanyanya histeris sambil mengguncang bahu cowo yang disebutnya 'kak bisma' itu.

"haha, apaan deh, iya aku Bisma, personil SM*SH, dan bukan hoax," kata cowo bernama Bisma itu sambil tertawa renyah.

Febi menggeleng-gelengkan kepalanya, sejurus kemudian langsung membungkuk-bungkuk
"kak, maapin aku kak, maap tadi gasopan! maap ya kak, maap," katanya gak jelas

bisma tersenyum simpul, "haha lucu deh kamu, iya gapapa kali, bilang maap-nya cukup sekali," kata Bisma ramah sambil menepuk bahu Febi pelan.

Febi menunduk, mukanya merah buangeet, secara ini cewe kan cinta mati sama Bisma.
"makasi kak,"

"iyaiya, nama kamu siapa?"

"Febi, aku SMASHBLAST tau kak," ucap Febi semangat

"wah makasih ya,"

"e'eh, eh btw kakak nungguin siapa? janganjangan anak sm*sh ya?" tanya Febi penuh selidik

Bisma mengangguk, "iya, Morgan."

mata Febi membesar, "MORGAN? MORGAN HANDI WINATA?"

Bisma mengangguk sambil menahan senyum, "iya, jadi siapa lagi dong,"

Febi nyengir polos,

"Febi nungguin siapa?"

"Chacha,"

"Chacha? itu nama permen kan ya?" *woy, pis cha piss -_-V*

"ih kakak bego deh, itu nama temenkuuu, awas ya ntar aku aduin ke Chacha, dia sadis tau kak, jago berantem!" kata Febi polos yang berhasil membuat Bisma ketawa terbahak.
sementara si Febi cuma cengo, 'ini orang kenapa ketawa ya?' hal itu berkecamuk di otaknya.

maklumlah, orang polos, polosnya kelewatan malah -_-.


***

"eh cowo sinting, gue gamau tau, gue mau keluaaar sekarang jugaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Chacha tertahan.

dengan cepat Morgan membungkam mulut cewe manis itu, "ssst diam dong lo!"

"demi Tuhan, jijik gue ada di dalam ruangan gelap, sempit, kotor, kayak begini sama elo!!!!" Chacha memanyunkan bibirnya

"eh diluar itu banyak fans gue, gue bawa lo lari ke gudang ini buat sembunyi, juga buat elo! gue tau lo pasti seneng karna dituduh pacaran sama gue, tapi gue mah ogah!!!" kata Morgan pelan sambil mencubit lengan Chacha.

"adawwww, kurang ajar ya lo, siapa juga yang mau ngaku-ngaku jadi pacar cowo sinting, bego, jelek, sok imut, kayak elo!" balas Chacha sambil menginjak kaki Morgan kuat-kuat.

Morgan kehilangan keseimbangan akibat injakan Chacha, sejara refleks dia terjatuh dan menindih badan Chacha,
dan.. tanpa sengaja bibir Morgan mengenai pipi Chacha!

keduanya diam,
1 detik....
2 detik....
3 detik....

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!" teriak keduanya heboh sambil bangkit berdiri,


"eh udah gue duga lo naksir sama gue, makanya lo ciumcium gue, ih najisin lo," kata Chacha heboh sambil mengusap-usap pipinya yang 'dicium' Morgan tadi.

Morgan sendiri mukanya udah berubah jadi merah, kemudian membalas, "seenak jidat lo aja ngomong, gue ga sengaja tau, lo kan yang nyodorin pipi lo ke gue, ihhh,"

"eh gue gamau tau, gue mau keluaaaar!" teriak Chacha panik, "lagian ini konser JB-nya pasti udah mulai dan gue telat gara-gara makhluk aneh kayak lo," lanjutnya sambil membuka pintu gudang dan keluar.

"sialaan!" rutuk Morgan sambil mengikuti Chacha, keluar dari gudang.

***

"apaan sih lo ngikutin gue? lo nge-fans ya sama guee?" sembur Chacha sambil mendelik sinis Morgan yang berjalan tepat disampingnya.

"eh dodol, gue kan mau ke gedung utama, mau nonton juga, lo ke GR-an amat deh, najis!"  Morgan mendahului langkah Chacha.

'cowo sialaaan! kenapa sih gue mesti ketemu artis sok kecakepan kayak nih orang? cih,' batin Chacha sambil mengepalkan tinjunya ke arah punggung Morgan yang berjalan di depannya.

Chacha terus ngedumel di belakang Morgan, mendadak Morgan berhenti dan mengakibatkan cewe dibelakangnya menabrak punggungnya.

"aduh, cewe gilak! punggung gue bukan bantal yang bisa lo serodok seenak lo," ujar Morgan sinis memandang cewe mungil yang sedang meringis kesakitan di atas tanah.

"eeeh! lo sih pake acara berhenti, bantuin gue berdiri! cepeeeet," pinta Chacha judes.

Morgan mengangkat alisnya, kemudian tersenyum jail, "ogaah! bye cewe nyolot," katanya kasar sambil berbalik dan berjalan menjauhi Chacha.

Chacha melotot kaget, kemudian mencak-mencak, "sialaan lo! sialaaaaan, emang cowo gatau etikaa!" semburnya pada Morgan yang semakin menjauh.

saat Chacha masih meringis menunggu sakit di kakinya mereda, sebuah tangan terulur di depan wajahnya,
Chacha kaget, kemudian langsung mendongak menatap wajah malaikat penolong itu,

Cowo itu tersenyum manis, Chacha melongo.

Kamis, 07 April 2011

Come In With The Rain (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

I could go back to every laugh
But I don't wanna go there anymore
And I know all the steps up to your door
But I don't wanna go there anymore

Talk to the wind, talk to the sky
Talk to the man with the reasons why
And let me know what you find

I'll leave my window open
'Cause I'm too tired at night to call your name
But just know I'm right here hoping
That you'll come in with the rain

I could stand up and sing you a song
But I don't wanna have to go that far
And I, I've got you down, I know you by heart
And you don't even know where I start

Talk to yourself, talk to the tears
Talk to the man who put you here

And don't wait for the sky to clear

I'll leave my window open
'Cause I'm too tired at night to call your name
Oh, just know I'm right here hoping
That you'll come in with the rain

I've watched you so long
Screamed your name
I don't know what else I can say


But I'll leave my window open
'Cause I'm too tired at night for all these games
Just know I'm right here hoping
That you'll come in with the rain

I could go back to every laugh
But I don't wanna go there anymore



Jumat, 04 Februari 2011

Today Was a Fairytale (bagian 1)

Today Was a Fairytale

“Chachaaaaaaaaaaaa,” aku memanggil perempuan cantik yang baru memasuki kelas dengan kencang, khas-ku (ngaku).

Perempuan bernama Chacha yang tak lain tak bukan adalah sahabatku itu menutup kuping dan mulut eh salah telinga ding :p dengan rapat sambil berjalan ke arahku (?).

“apaan sih Peb? Budek gue mah duduk deket lo,” katanya sambil menjitak kepalaku.

Aku cengengesan, “hehehe, gini lo Cha, nonton Justin Bieber yuk? Minggu ini? Kebetulan nih gue lagi dapat 2 tiket dari papa gue yang baik hati dan tidak sombong,” kataku semangat sambil mencak-mencak gak jelas (?).

Chacha mendengus, “apaan sih itu Justin Bieber? Acara lawak ya? Ogah mah gue,” katanya sambil mengeluarkan buku dari dalam tas.

Aku manyun, “yee dodol, itulo penyanyi yang notabennya mantan pacar gue,” kataku asal sambil cengengesan gak jelas.

Chacha menoyor kepalaku kencang, nyaris saja berputar, “yee ngarep lo,”

“biarin.. jadi gmn? Lo mau gak? Kalo lo gamau sih gue bisa aja Alvin, ketua osis, kan asyik tuh nge-date bareng dia??” kataku asal sambil mesemmesem membayangkan wajah  cowo ter-asoy disekolah.

“okedeh karna lo maksa,”

“siapa juga yang maksa lo, huuu,”

“eh jadi lo ganti idola ni? Biasanya idola lo kan sih Bis itu?” Chacha mengalihkan topic

Aku menautkan alis, “Bis? Mana perna gue idolain mobil? Dodol,” kataku sebel.

“itulo yang hobby-nya nge-dance, apasih namanya? Smush? Ah tau ah gelap,”

Aku menoyor kepala Chacha (perasaan noyor mulu deh) “itu SM*SH dan idola gue namanya BISMA bukan BIS, dudul,” kelekarku

“apapunlah,”

“yaudah deh, semoga personil SM*SH jg pada nnton JB deh, kan asyik bisa ketemu merekaaa,” kataku mulai mengkhayal
“muali deh, mulaaai! Belom jam 12 Peb, ngayal mulu lo,” dengus Chacha

Aku Cuma memandangnya sambil nyengir.

***

“Chacha, gue gamao tauu, pokoknya pas gue ke rumah lo, lo udah siap, mau lo mandi kek, mau engga, bukan urusan gue,” kataku lantang sambil menutup telpon, barusan Chacha bilang dia belom mandi, padahal 2 jam lagi konser JB mulai.

Emang dasar dah tuh anak, belom pernah ngerasain bodem gue kali yak? :p
Wkwk.

“Mamaa, aku pergi dulu yaa, byee,” pamitku sambil berteriak dari depan pintu dan ngeloyor ke mobilku eh ralat deh, mobil kakakku yang aku pinjam :p

Sekitar 15 menit kemudian…

TIN TIN TIIIN! Aku membunyikan klakson dengan kencang berkali-kali.

“eh Chacha kemana sih? Lama amat dah,” gumamku sambil terus membunyikan klakson, tanganku sibuk update status di twitter melalui handphone.

“gue disini Pebi sayooong,” kata seseorang tiba-tiba, aku menoleh ke samping dan mendapati Chacha.

Tuh anak mulutnya udah manyun 2 cm, “eh Chacha, sejak kapan lo disini?” tanyaku bego

“dari jaman 45,” jawab Chacha asal

Aku merengut, “yeee,”

“abisnya lo update mulu,”

“suka-suka dong ah :p”

“yadeeh, yaudah cepetan jalanin,”

Aku menoleh kea rah Chacha, tumben tuh anak hari ini rapi.
Pake dress lagi, biasanya mah ngasal aja. *piss Cha:p*

“ciyee tumben rapi, mau ketemu ayang bieber (?) mesti rapi gitu ya Cha?” godaku

Pipi Chacha bersemu merah, “apaan sih lo, lebaay!”

“jadi apa donngggg?” godaku terus

“udah deh Peb, jalanin cepeeet,” katanya sambil melipat dua tangan di depan dada.

Aku nyengir, “iyadeh, siap laksanakan boss!” kataku sambil menekan tombol on pada tape dan mengemudikan mobil.

“kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu, selalu peluhku menetes tiap dekat kamu…”

Alunan lagu SM*SH langsung terdengar, “wah pas banget ish~” kataku kesenangan, biasalah jejeritan ganyante.

“apaan sih bagusnya lagu ini? Gaenak juga,” kata Chacha sambil mematikan radio.

“eh munyung lo Cha, itu lagu gue bangeet, ada ayang imaa,”

“ayang ima pala lo lima, dia aja kagak kenal ama lo,”

“suatu saat bakal kenal ko,” kataku santai sambil menghidupkan radio kembali.

“you know me so well, girl I need you, girl I love you, girl I heart you…”

Lagu SM*SH kembali mengalun, aku menggerakkan kepala (?) sesuai irama.

Kulirik Chacha yang menggeleng-geleng di sebelahku, hehe maklum Chacha kan gasuka SM*SH (boong banget!)

***

“tuhkan Cha, lo sih lelet, liat deh udah rame gini yang mau masuk,” kataku uring-urungan sambil melihat pintu masuk yang padatnya ngalah-ngalahin pasar.

Chacha mengangkat bahu, “haelah yang penting mah kita bisa nonton akhirnya neng,” katanya santai.

“ah gamau pokoknya gue mau masuk duluan, terserah lo mau ikut apa gak,” kataku semangat sambil berjalan ke pintu masuk.

Chacha menahanku, “aleh Peb, udah deh tunggu aja disini nape,” tahannya

“ah gamau Cha, gue mau ke dalaaaam,” rengekku sambil jongkokjongkok (?) di depan Chacha.

Tuh anak kayaknya malu karna kami udah jadi pusat perhatian karena tingkahku (yaiyalah!), “yaudah deh, gue belakangan, sini tiket gue,” katanya akhirnya

Aku tersenyum lebar, “nah gitu dong cuyuuung, noh noh,” kataku menyerahkan tiket padanya seperti aku memberikan makanan pada pussy, kucingngku. (ampun Cha ._.V)

Chacha menyambar tiketku dengan cepat, “yee yaudah sana lo masuk, hush,”

Sambil menjulurkan lidah aku berbalik dan berlari kencang menuju pintu masuk, aku harus melihat JB pertama kali. Yeaaah! (impian muluk—“).

***

(kita hilangkan dulu pemeran penulis, kita focus ke Chacha! #eaa )

‘aduh mau ngapain yah gue? Kayak orang bego berdiri sendiri disini,’ batin Chacha sambil melihat sekitar.
“apa gue masuk ya?” katanya pelan sambil melirik pintu masuk yang bak gula yang sedang diiringi semut, dari sini dia melihat Febi yang lagi desak-desakan kayak nagih sembako (?).

“ih ogah, gila tuh si Pebi, mau amat antri sembako,” Chacha bergidik ngeri.

“mending gue cari makanan aja ah, gue haus,” kata Chacha akhirnya sambil ngeloyor pergi. (nyari makanan ko haus sih Cha? Ckck—“ :p)

***

“yaelah masih setengah jam lagi konsernya, si Pebi mah jemput gue kecepetaan,” Chacha melirik arlojinya sambil menggerutu, sudah 1 jam dia duduk di caffe yang terletak di sebelah gedung konser.

“ah masuk aja dhe, daripada gue kayak orang bego duduk disini,”

Di tengah jalan menuju keluar…
“Aduh mamaaa, aku kebelet (?),” kata Chacha sambil lompat-lompat (?) dan berlari secepat kilat menuju toilet yang terletak di belakang caffe tersebut.

***

“Weeey kalian masuk aja duluan ya? Gue kebelet nih!!” seorang cowo ganteng berseru pada teman-temannya.

“kebelet apa lo? Boker *maaf* ?” tanya salah satu yang memakai kacamata sambil nyengir

“sialan lo, ah udah deh, eh btw kamar mandi disini mana yak?” tanyanya sambil mencak-mencak gak jelas.

“gatau gue,” jawab temannya yang berwajah oriental.

“aduh serius dong, gue udah gatahaan nih,” katanya gak sabar.

“coba ke caffe itu aja kali, yaudah deh, kita masuk ya, selamat berjuang MORGAAAN,” ajak salah satu diantara mereka, serempak mereka melambaikan tangan pada cowo  bernama Morgan yang udah kebat kebit itu.

“ah sahabat terkutuk (?) kalian, yaudah deh coba ke caffe itu aja,” kata Morgan sambil berlari ke caffe.

“yess ada toiletnyaa,” katanya sambil berlari ke belakang, tempat kamar kecil berada.

***
“ah lega deh gue,” kata Chacha sambil mengelap tangannya dengan tissue,

“ha? 10 menit lagi konsernya mulai? Idiiih mampus dah,” katanya kebatkebit sambil melirik arlojinya.

Secepat kilat Chacha merapikan dirinya di cermin dan keluar dari toilet.

***

“HUAPAAA? 10 menit lagi konsernya mulai?” teriak Morgan lebay di dalam toilet cowo, dia melihat jam yang tertera di hp-nya.

“hey jangan berisik,” kata seorang bapak yang berdiri di sebelah Morgan tajam.

Morgan nyengir ke arah bapak tua yang berambut botak (?) itu.

“nyegir lagi, dasar anak jaman sekarang,” omel bapak itu sambil keluar dari toilet.

‘huh botak tua sok jago, gue hajar abis lo,’ batin Morgan sebel.

“aduh kenikmatan (?) gue di dalam kamar mandi,” katanya sambil mencuci tangan dan ngeloyor keluar dari toilet, tanpa mengelap tangannya terlebih dahulu.

***

BRUUUK!
Dua orang insan itu bertabrakan di depan toilet.
Dua orang tersebut tak lain tak bukan adalah Chacha dan Morgan. #ciyee

“aduh hati-hati dong kalo jalan,” kata Morgan sambil meringis.

Chacha tak mau kalah, tapi… “eh apanih? Kok tangan lo basah sih? Aduuuh jijay,” kata Chacha sambil mengelap tangannya yang basah ke baju Morgan.

Morgan kaget, “eh apaan sih pake acara ngelap lagi lo,” kata Morgan tak terima

Chacha melotot, “eh lo jorok amat sih? Abis ngapai lo dari kamar mandi? Ih jijay deh tangan lo masih basa, begooo amat sih,” kata Chacha smabil mencium telapak tangannya.

“yee biasa aja dong, gue udah sabunan 1 gentong kok (?) dikamar mandi,” katanya nyolot.
“segentong? Emak lo segentong!”

“emak gue Cuma sebiji kali yaa,”

“dasar bego,”

“tolol,”

“dodol,”

“aneh,”

“belagu,”

“norak,”

“jelek,”

“lo lebih jeleeek,”

“looo,”

“loooo,”

“looooo,”

“LOOOOOO,” teriak Morgan ganyante

Chacha melipat tangannya di depan dada sambil menggelembungkan pipi,

“eh cewe jelek,”

“eh sopan dong cowo jelek,”

“kok lo manggil gue jelek? Ganteng gini juga,”

“lo duluan,”

“eh sialan,”

Tiba-tiba …

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” segerombolan cewe menghampiri mereka.

Morgan kaget terlebih Chacha,

TO BE CONTINUED

Selasa, 25 Januari 2011

ALVIN jonathan story

ALVIN JONATHAN SINDHUNATA P.O.V (buset kok kaya cerpen --")






===============

    Halo teman sobat ICIL 3 yang ada di seluruh Indonesia,perkenalkan nama saya Alvin Jonathan S. Saya biasa dipanggil Alvin. Saya lahir di Malang pada 20 Sept 1997.Saya mempunyai 1 Papa dan 2 Kakak perempuan(Tasya dan Tania).Saya tinggal bersama Papa dan ke 2 Kakaku di Malang.Mama saya udah meninggal sejak saya berumur -/+ 1 tahun loh.Hobby saya itu main sepak bola dengan tim andalanku adalah Real Madrid,pemain andalan saya yaitu Christiano Ronaldo.My lucky numbers are 7 dan 9.WHYY????Karena no.7 itu no.punggungnya RONALDO di Real Madrid,dan no.9 itu no.favoritenya aku prbadi sendiri.


    Teman2,pasti kalian udah pada tau kan kalo aku pernah mengikuti pentas ICIL 3 di JAKARTA.Aku sih gak ada kemauan buat mengikuti pentas itu,tapi mau gimana lagi,tiba2 aja aku disuruh ikut pentas ICIL3.

Teman2 mau tau gak ceritanya kenapa aku bisa sampe di ICIL 3 ..


    Aku ikut audisi di sekolahku,sebenarnya sih aku gak tau kalo itu adalah audisi ICIL 3,habisnya aku tadinya disuruh sama guruku untuk menyani,tiba2 beberapa menit kemudian,guruku bilang "Alvin kamu ikut menuju ICIL 3!!! " otomatis aja aku kaget karena gak ada kepikiran buat masuk ke ICIL 3,ya tapi karena disuruh sama oma,ya aku ikut aja deh.

Dengan keterpaksaan hati aku ikut ICIL 3,kan aku cita2nya pengen jadi pemain bola kaya RONALDO,kenapa aku harus ikut2an ICIL 3 ..


    Dengan amat berat hati akhirnya aku ikut ICIL 3,pertama kalinya aku berkenalan dengan teman2,lalu Bunda Romi,Ka uCie,Uncel Jo,Ka Tias,baru deh kenalan sama Ka Oni N Friends

lalu akhirnya aku latihan dengan terpaksaaaa sekali,rasanya BT,bosen,gak seru dll.Tapi pada hal itu,mereka semua baik2 sama aku,mereka(kakak2 mentor)pada baik,sabar dll.Abis itu,lama kelamaan aku jadi mulai berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih baik,itu semua berkat teman2 dan semua yang mendukung aku termasuk ALVINOSZTA....GO ALVINOSZTA GO ALVINOSZTA


    Rsanya minggu ke minggu gak terasa,gak nyangka deh bisa masuk 3 besar,padahal dalam hati sih aku SIAP jadi pemenangnya,tapi Tuhan bertindak lain sama aku,Tuhan punya rencana yang lebih istimewa sama aku,aku TK waktu posisiku sudah 3 besar.Tapi yang namanya rencana Tuhan itu pasti selalu indah pada waktunya Berkat aku TK,aku jadi bisa bikin acara M&G,ketemu sama temen2 lama jadi bisa melihat ALVZ masuk SIB,pokoknya Tuhan gak salah kok bisa memasukkan aku ke ICIL 3 dan TK waktu posisi 3 besar.Maksud Tuhan karena aku TK dalam possisi 3 besar supaya tiap minggunya anak2 ALVZ masih bisa liat aku.Coba pikir2 deh,kalo aku keluar di 3 besar,otomatis aku kan masih bisa barengan sama teman2 ICIL dan anak2 ALVZ masih bisa liat aku diminggu depannya lagi



    Pada akhirnya ICIL selesai buat album dan aku nyanyi solo di album DUNIA IDOLA dengan judul laguku BERTEMAN SAJA .Teman2 jangan lupa beli kaset dan CDnya yah di toko2 kaset terdekat di rumah kamu (jangan beli yang bajakan yah)



    Pokoknya aku pingin ngucapin banyak2 thx buat GOD JESUS CHRIST ,buat oma yang udah dukung aku sama cece2ku ,buat teman2 di SMP Kalam Kudus,buat bunda Romi,Ka Ucie,Uncle Jo,buat Ka Tias n buat Ka Oni N Friends dan juga gak lupa buat ALVINOSZTA ,tanpa kehadiran kalian semua,mungkin Alvin gak akan bisa jadi sesenang ini.


===============

ALVIN, i love you dear<3
tanpa kamu, ALVINOSZTA juga gak bakalan ada.
ALVZ bangga punya kamu vin, bangga banget.
VIVA ALVINOSZTA
BE THERE BE CARE /\ \/